KEWAJIBAN MENUNTUT ILMU DAN MENGAMALKANNYA

 

MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

"Kewajiban Menuntut dan Mengamalkan Ilmu Serta Kerukunan Antar Umat Beragama"

  

 

 

 


 

Dosen Pengampu:

Safari Hasan, S. IP., M.M.R.

Disusun Oleh:

Deviyana Maulida  30720009

 

 

Program Studi D3 Kebidanan

Fakultas Kesehatan

Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata Kediri

Tahun Ajaran 2021/2022





KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa. Atas rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul "Kewajiban Menuntut dan Mengamalkan Ilmu Serta Kerukunan Antar Umat Beragama"

Makalah disusun untuk memenuhi tugas Mata Pelajaran Agama. Selain itu, makalah ini bertujuan menambah wawasan tentang kewajiban menuntut ilmu dan mengamalkan serta kerukunan antar umat beragama bagi para pembaca dan juga bagi penulis.

Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh sebab itu, saran dan kritik yang membangun diharapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Kediri, 17 November 2021

Penulis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI 

 

DAFTAR ISI. 3

BAB I. 4

1.1.     Latar Belakang. 4

1.2.     Rumusan Masalah. 5

1.3.     Tujuan Penulisan. 5

BAB II. 6

2.1.     Pengertian Ilmu. 6

2.2.     Pengertian Menuntut Ilmu. 7

2.3.     Perintah Menuntut Ilmu Bagi Umat Islam.. 7

2.4.     Klasifikasi Pembagian Ilmu. 9

2.5.     Keutamaan Orang yang Berilmu. 11

2.6.     Ancaman Bagi Orang yang Meninggalkan Ilmunya. 14

BAB III. 16

3.1.     Keimpulan. 16

3.2.     Saran. 16

DAFTAR PUSTAKA.. 17

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.       Latar Belakang

 

               Mencari ilmu adalah suatu kewajiban bagi setiap umat manusia. Allah SWT menciptakan manusia dengan akal fikiran agar dapat digunakan untuk mempelajari ilmu guna menjadikan hidupnya terang dan juga tidak menyimpang dari perintah- perintah Allah SWT.

               Mencari ilmu ini sendiri tidak dibedakan menurut gender ataupun jenis kelamin dimana artinya semua manusia diwajibkan untuk mencari ilmu karna dengan ilmu akan membawa pada jalan yang benar dan terjauhi dari kebodohan.

               Terutama saat era ini pun ilmu pengetahuan dapat dengan mudah kita dapatkan melalui internet yang dimana memberikan kemudahan untuk mendapatkannya dan mengamalkannya kepada sesama umat muslim.

               Islam sendiri dianggap sebagai agama pemersatu bangsa dan sebagai rahmatan lil alamin atau agama islam sendiri menurupakan rahmat bagi alam dan seluruh isinya. Kita akan menjadi orang yang merugi bila kita sebagai umat muslim tidak menuntut ilmu karna Rasulullah sendiri bersabda: “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699). Dalam hadist tersebut  Rasulullah menjelaskan keutamaan menuntut ilmu bagi kita. Ilmu yang kita miliki akan bermanfaat apabila kita mengamalkan ilmu yang kita miliki tersebut diamalkan di jalan Allah. Dengan begitu dapat meningkatkan derajat dimata Allah SWT.

1.2.       Rumusan Masalah

1.    Apa pengertian Ilmu?

2.    Apa pengertian menuntut ilmu?

3.    Bagaimana perintah menuntut ilmu bagi umat islam?

4.    Bagaimana pembagian hukum dalam menuntut ilmu?

5.    Apa keutamaan orang yang memiliki ilmu?

6.    Apa ancaman bagi orang yang meninggalkan ilmunya?

1.3.       Tujuan Penulisan

1.    Untuk mengetahui pengertian ilmu

2.    Untuk mengetahui pengertian menuntut ilmu

3.    Untuk mengetahui perintah menuntut ilmu bagi umat islam

4.    Untuk mengetahui pembagian hukum dalam menuntut ilmu

5.    Untuk mengetahui keutamaan orang yang memiliki ilmu

6.    Untuk mengetahui ancaman bagi orang yang meninggalkan ilmunya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PEMBAHASAN
2.1.       Pengertian Ilmu

               Pengertian ilmu berasal dari bahasa arab yaitu ‘alima yang memiliki arti mengetahui atau perbuatan dengan tujuan untuk mengetahui segala sesuatu.

               Sedangkan ilmu menurut bahasa latin yakni science memiliki makna pengetahuan, mengetahui atau memahami.

               Sedangkan ilmu menurut KBBI adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang (pengetahuan).

               Imam Al Jurjani di dalam kitabnya At Ta'riifaat mendefinisikan ilmu sebagai keyakinan kuat yang sesuai dengan realita. Beliau juga menyebutkan definisi lain, yaitu adanya gambaran sesuatu di dalam akal, hanya saja beliau menjelaskan bahwa definisi pertama memiliki makna lebih dalam dari yang kedua.

               Al Manawi dalam kitab At-taufiq berkata , “ ilmu adalah keyakinan kuat yang tetap sesuai dengan realita. Bisa juga bersifat yang membuat perbedaan tanpa kritik. Atau, ilmu adalah tercapainya bentuk sesuatu dalam akal.”

2.2.       Pengertian Menuntut Ilmu

               Menuntut ilmu sendiri merupakan upaya atau ikhtiar seseorang untuk merubah atau memperbaiki tingkah laku maupun perilaku ke arah yang lebih baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain, karna ilmu sendiri membawa ke jalan yang benar dan lurus juga meninggalkan kebodohan.

               Perintah menuntut ilmu sendiri tidak di bedakan antara laki-laki maupun perempuan, usia dan status sosial yang ada dilingkungan. Hal yang paling di harapkan dari menuntut ilmu ialah terjadinya perubahan pada diri individu ke arah yang lebih baik yaitu perubahan tingkah laku, sikap dan perubahan aspek lain yang ada pada setiap individu.

               Dalam hadist Ibnu Majah diriwayatkan, bahwa kegiatan menuntut ilmu sendiri itu bersifat wajib bagi seorang muslim. Kewajiban ini tidak memandang gender atau jenis kelamin atau status sosial seseorang.

               Dalam hadist riwayat Muslim no. 1631 juga menjelaskan tentang keistimewaan ilmu yang dimiliki seseorang samapai akhir hidupnya.    

               Dengan begitu dari hadist tersebut dapat diartikan seseorang tidak akan putus amalannya samapai akhir hidupnya jika memiliki ilmu.

2.3.       Perintah Menuntut Ilmu Bagi Umat Islam

               Di dalam Islam sendiri menuntut ilmu merupakan perintah sekaligus kewajiban. Manusia diperintahkan untuk menuntut ilmu, karena dengan ilmu pengetahuan kita bisa mencapai apa yang dicita-citakan baik di dunia maupun di akhirat. Apalagi sebagai seorang muslim itu wajib hukumnya seperti dalam sebuah hadits disebutkan bahwa :         

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Artinya:

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah no. 224)

Dalam hadist riwayat Bukhori juga disebutkan pentingnya untuk menuntut ilmu

ﻣَﻦْ ﺃَﺭَﺍﺩَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻓَﻌَﻠَﻴْﻪِ ﺑِﺎﻟْﻌِﻠْﻢِ، ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﺭَﺍﺩَ ﺍﻷَﺧِﺮَﺓَ ﻓَﻌَﻠَﻴْﻪِ ﺑِﺎﻟْﻌِﻠْﻢِ، ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﺭَﺍﺩَﻫُﻤَﺎ ﻓَﻌَﻠَﻴْﻪِ ﺑِﺎﻟْﻌِﻠْ

Artinya :

“Barangsiapa yang menginginkan dunia maka hendaklah berilmu. Barangsiapa yang menginginkan akhirat, maka hendaklah dengan ilmu.Barangsiapa yang menginginkan keduanya, maka hendaklah dengan ilmu.”

               Maka jelas kiranya bahwa menuntut ilmu pengetahuan memang diwajibkan. Dengan ilmu kita bisa meraih dunia, dengan ilmu kita dapat meraih akhirat dan dengan ilmu pula kita bisa meraih kedua-duanya.

 Dalam Q.S At Taubah : 122

 

               Taubah : 122 dijelaskan bahwa tidak semua orang berimanharus ikut untuk berperang apabila perang dapat dilakukan oleh sebagian umatislam maka sebagian umat islam yang lain belajar mencari ilmu dan medalamiilmu agama, hal tersebut dilakukan dengan tujuan supaya ajaran islam dapatdipahami secara turu temurun kepada umat islam yang lain sehingga kecerdasanumat ilsma dapat terjaga dan dapat ditingkatkan maka dapat diartikan bahwaorang yang berjuang mencari ilmu sama nilainya dengan orang yang berjuangdimedan perang keduanya sama-sama

               Manusia diwajibkan untuk menuntut ilmu karena hal ini sebenarnya telah dijawab oleh Al-Qur’an sendiri. Dimana menurut Al-Qur’an, Allah menciptakanmanusia dalam keadaan miskin ilmu, lalu Allah memberinya perangkat ilmu agar mampu menggali ilmu dan mempelajarinya. Karena memang ilmu itu harus digali, dipelajari, dan diamalkan.

               Kewajiban menuntut ilmu sendiri sudah tertera pada ayat pertama yang Allah SWT turunkan yaitu, Al-Qur’an surah Al-Alaq ayat 1-5 juga sudah dijelakan bahwa manusia diperintahkan untuk membaca, menulis juga belajar karena Allah SWT menciptakan manusia dengan akal yang digunakan untuk berfikir berbeda dengan hewan yang tidak memiliki akal untuk berfikir.

               Maka sangat dari sini jelas alasan Allah SWT memerintahkan manusia untuk mencari ilmu-Nya sebanyak mugkin. Namun, sberapapun tingginya ilmu dan pengetahuan manusia, hanyalah merupakan sebagian kecil saja dari ilmu Allah. Namun kesempatan untuk memperoleh sebagian sebagian dari ilmu Allah yang lain tetaplah ada selama manusia mempunyai kemauan, kemampuan dan usaha.

               Dalam mencari ilmu pengetahuan, hendaklah juga dapat memberikan manfaat bagi kebaikan di dunia dan di akhirat baik untuk diri kita sendiri maupun untuk orang lain.

               Mengajarkan ilmu kepada orang lain merupakan sadaqoh, sesuai dengan sabda Nabi, Selagi ada kesempatan untuk mencari ilmu dan sebelum Allah mencabut atau mengangkat ilmu dari manusia, maka carilah ilmu sebanyak-banyaknya untuk kita manfaatkan serta kita amalkan di jalanNya. Sebab ilmu yang bermanfaat merupakan salah satu amal jariyah yang tak akan terputus.

2.4.       Klasifikasi Pembagian Ilmu

2.4.1.      Klasifikasi Ilmu menurut Hukum

HukumDalam Islam, kita mengenal dua hierarki ilmu; ilmu fardhu ‘ain dan fardhu kifayah.

a.    Fardhu Ain

               Fardhu Ain sendiri berarti suatu kewajiban, dimana artinya seorang muslim wajib untuk menuntut ilmu agama ataupun ilmu yang dapat digunakan untuk bertauhid.

               Dalam Ilmu agama sendiri memiliki 3 unsur yaitu akidah, syariah dan juga akhlak. Setiap umat muslim diwajibkan untuk mempelajari dan mengetahui dasar dasar islam untuk melaksanakan kehidupan sesuai dengan tuntunan Allah SWT seperti mengenai rukun iman, rukun islam, dan amalan amalan dasar yang lainnya.

            Seseorang yang memelajari Al-Qur’an akan dengan mudah memahami isi kandungan dari Al-Qur’an tersebut dan akan terhindar dari sifat-sifat yang tercela serta menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam menjalan kehidupan dan mengamalkanya di kehidupan kesehariannya.

b.                  Fardhu Kifayah

            Ilmu Fardhu kifayah yaitu gugurnya kewajiban seorang muslim dalam menuntut ilmu apabila sudah ada yang mempelajari ilmu tersebut.

            Ilmu-ilmu yang masuk dalam ilmu fardhu kifayah sendiri ini berupa ilmu-ilmu sains yang biasanya didapat melalui pengalaman, pengaatan, dan penelitian seperti ilmu kedokteran, kimia, fisika, matematika dan lain-lain. Pada hakikatnya semua umat muslim ini diperintahkan untuk mencari illmu baik fardhu ain maupu fardhu kifayah.

            Kedua ilmu tersebut sangat penting untuk kehidupan umat manusia dimana ilmu yang masuk fardhu ain ini sebagai landasan dalam tuntunan agama dan yang fardhu kifayah ini illmu yang dibuutuhkan dalam urusan dunia.

  Namun, sebenarnya kedua ilmu ini diharapka berjalan seimbang dalam penatalaksanaannya agar semuanya berjalan seimbang antara ilmu dunia dan akhirat. 

2.4.2.      Klasifikasi Ilmupengetahuan Menutut Sumbernya

            Adapun klasifikasi ilmu pengetahuan menurut sumbernya. Al-Gazali membagi kepada dua sumber:

     1). Sumber dari pengetahuan syari’ah Ilmu ini adalah ilmu              pengetahuan yang di peroleh dari para Nabi as. Bukan dari penggunaan ilmu akal seperti berhitung atau dari eksperimen seperti ilmu kedokteran atau dari pendengaran seperti ilmu bahas.

2). Pengetahuan gairi syari’ah(`aqliyah)

Sumber-sumber primer dari pengetahuan gairu syari’ah (`aqliah) adalah akal pikiran, eksperimen dan akulturasi.Jadi, ilmu pengetahuan gairu syari‟ah yakni sesuatu yang dapat diganti (dicari) dan tercapai oleh persepsi dan ilmu pengetahuan ini ada yang terpuji, dan yang tercela dan ada yang mubah.

2.4.3.      Klasifikasi ilmu pengetahuan menurut fungsinya sosialnya.

                  Berdasarkan fungsi sosialnya, al-Gazâli membagi kepada 2 macam:

a. Ilmu pengetahuan yang terpuji, yakni pengetahuan yang bermanfaat dan tidak dapat di kesampingkan. Contohnya ilmu kedokteran dan berhitung.

b. Ilmu pengetahuan yang terkutuk yaitu pengetahuan yang merugikan dan merusak manusia. Contohnya ilmu magis (sihir), azimat-azimat (ţulasamat), ilmu tenung (sya‟biżah) dan astrologi (talbisât).

2.5.       Keutamaan Orang yang Berilmu

              Dalam Alquran Allah SWT berfirman: "...Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat..." (QS. Al-Mujadilah [58]:11).
        Oleh karena itu, ada beberapa keutamaan menuntut ilmu bagi orang yang bersungguh-sungguh dalam mengerjakannya. Karena memiliki keutamaan yang amat besar dan mulia, di antara keutamaan menuntut ilmu adalah:

 

 

1.    Ilmu adalah Warisan Para Nabi

    Rasulullah SAW bersabda: “Dan sesungguhnya para Nabi tidak pernah mewariskan uang emas dan tidak pula uang perak, akan tetapi mereka telah mewariskan ilmu (ilmu syar’i) barang siapa yang mengambil warisan tersebut maka sungguh ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR Ahmad).

          Ini menunjukkan bahwa keutamaan menuntut ilmu lebih tinggi dari pada uang dan emas yang bersifat materi. Sebab, saat seseorang memiliki ilmu dan hingga mengajarkannya, maka hal tersebut akan menjadi amal jariyah yang terus mengalir bahkan hingga orang tersebut meninggal dunia.

2.      Menuntut Ilmu Adalah Jalan Menuju Surga

    Surga adalah idaman setiap muslim. Bahkan, ia menjadi janji dari Allah SWT bagi banyak amalan shalih yang dilakukan oleh umat Islam. Oleh karena itu saat Allah SWT menjadikan ilmu sebagai jalan utama menuju surga, maka ini menunjukkan besarnya keutamaan menuntut ilmu.

    Hal ini telah mendapatkan landasan syar’i, karena didasarkan pada sebuah hadis saat Rasulullah SAW bersabda: “… Barang siapa yang meniti suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga…” (HR Ahmad).

3.    Allah SWT Akan Meninggikan Derajat

  Terkait dengan keutamaan menuntut ilmu yang satu ini, dalam Alquran Allah SWT berfirman: “Allah mengangkat orang-orang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (Al-Mujadalah: 11).

  Tentang tafsiran atau arti dari ayat ini, Imam Syaukani berkata: “Dan makna ayat ini bahwasanya Allah mengangkat beberapa derajat orang-orang beriman dari orang-orang yang tidak beriman, dan mengangkat beberapa derajat orang-orang yang berilmu (dan beriman) dari orang-orang yang hanya beriman. Maka barang siapa yang memadukan antara iman dan ilmu maka Allah mengangkatnya beberapa derajat karena imannya lalu Allah mengangkat derajatnya karena ilmunya.”

4.    Allah SWT Ingin Memberi Kebaikan

        Menjadi keutamaan menuntut ilmu selanjutnya, terkait hal ini dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan maka Allah akan menjadikannya paham akan agamanya.” (HR Bukhari dan Muslim).

        Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz menafsirkan: “Mafhum (makna tersirat) dari hadits ini bahwasanya orang yang tidak memahami agamanya berarti orang itu termasuk orang yang tidak dikehendaki kebaikan oleh Allah dan kami mohon perlindungan kepada Allah dari hal yang seperti itu.”

5.    Manfaat yang Akan Terus Mengalir Meski Telah Meninggal

   Rasulullah SAW bersabda: “Apabila anak cucu Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali melalui tiga jalur: shadaqah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang senantiasa mendoakannya.” (HR Bukhari dan Muslim).

  Siapa yang tidak ingin terus mendapatkan pahala meski telah meninggal. Hal ini akan didapati bagi orang yang bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Sebab, ilmu tersebut bukan hanya bermanfaat untuk dirinya, tapi juga untuk orang lain.

  Itulah beberapa keutamaan menuntut ilmu beserta adabnya yang bisa dipraktikkan, demi mendapatkan pahala yang berkah juga bermanfaat bagi sesama.

2.6.       Ancaman Bagi Orang yang Meninggalkan Ilmunya

Dari Usamah bin Zaid, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻳُﺠَﺎﺀُ ﺑِﺎﻟﺮَّﺟُﻞِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﻓَﻴُﻠْﻘَﻰ ﻓِﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ، ﻓَﺘَﻨْﺪَﻟِﻖُ ﺃَﻗْﺘَﺎﺑُﻪُ ﻓِﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ، ﻓَﻴَﺪُﻭﺭُ ﻛَﻤَﺎ ﻳَﺪُﻭﺭُ ﺍﻟْﺤِﻤَﺎﺭُ ﺑِﺮَﺣَﺎﻩُ ، ﻓَﻴَﺠْﺘَﻤِﻊُ ﺃَﻫْﻞُ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ، ﻓَﻴَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﺃَﻯْ ﻓُﻼَﻥُ ، ﻣَﺎ ﺷَﺄْﻧُﻚَ ﺃَﻟَﻴْﺲَ ﻛُﻨْﺖَ ﺗَﺄْﻣُﺮُﻧَﺎ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ ﻭَﺗَﻨْﻬَﻰ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤُﻨْﻜَﺮِ ﻗَﺎﻝَ ﻛُﻨْﺖُ ﺁﻣُﺮُﻛُﻢْ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ ﻭَﻻَ ﺁﺗِﻴﻪِ ، ﻭَﺃَﻧْﻬَﺎﻛُﻢْ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤُﻨْﻜَﺮِ ﻭَﺁﺗِﻴﻪِ

“ Ada seseorang yang didatangkan pada hari kiamat lantas ia dilemparkan dalam neraka. Usus-ususnya pun terburai di dalam neraka. Lalu dia berputar-putar seperti keledai memutari penggilingannya. Lantas penghuni neraka berkumpul di sekitarnya lalu mereka bertanya, “Wahai fulan, ada apa denganmu? Bukankah kamu dahulu yang memerintahkan kami kepada yang kebaikan dan yang melarang kami dari kemungkaran?” Dia menjawab, “Memang betul, aku dulu memerintahkan kalian kepada kebaikan tetapi aku sendiri tidak mengerjakannya. Dan aku dulu melarang kalian dari kemungkaran tapi aku sendiri yang mengerjakannya. ” (HR. Bukhari no. 3267 dan Muslim no. 2989)

Ada empat hal yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam minta pada Allah untuk dijauhkan,

ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧِّﻰ ﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦْ ﻋِﻠْﻢٍ ﻻَ ﻳَﻨْﻔَﻊُ ﻭَﻣِﻦْ ﻗَﻠْﺐٍ ﻻَ ﻳَﺨْﺸَﻊُ ﻭَﻣِﻦْ ﻧَﻔْﺲٍ ﻻَ ﺗَﺸْﺒَﻊُ ﻭَﻣِﻦْ ﺩَﻋْﻮَﺓٍ ﻻَ ﻳُﺴْﺘَﺠَﺎﺏُ ﻟَﻬَﺎ

“Allahumma inni a’udzu min ‘ilmin laa yanfa’, wa min qolbin laa yakhsya’, wa min nafsin laa tasyba’, wa min da’watin laa yustajaabu lahaa (artinya: Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tidak pernah merasa puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan).” (HR. Muslim no. 2722).

Allah ta’ala berfirman :

ﺇِﻥَّ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﻜْﺘُﻤُﻮﻥَ ﻣَﺎ ﺃَﻧْﺰَﻟْﻨَﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺒَﻴِّﻨَﺎﺕِ ﻭَﺍﻟْﻬُﺪَﻯ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِ ﻣَﺎ ﺑَﻴَّﻨَّﺎﻩُ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﺃُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻳَﻠْﻌَﻨُﻬُﻢُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﻳَﻠْﻌَﻨُﻬُﻢُ ﺍﻟﻼﻋِﻨُﻮﻥَ * ﺇِﻻ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺗَﺎﺑُﻮﺍ ﻭَﺃَﺻْﻠَﺤُﻮﺍ ﻭَﺑَﻴَّﻨُﻮﺍ ﻓَﺄُﻭﻟَﺌِﻚَ ﺃَﺗُﻮﺏُ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻭَﺃَﻧَﺎ ﺍﻟﺘَّﻮَّﺍﺏُ ﺍﻟﺮَّﺣِﻴﻢُ

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati, kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itu Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” [QS. Al-Baqarah : 159-160].

 

 

 

 

 

 

 


BAB III

PENUTUP

3.1.   Keimpulan

 

          Menuntut ilmu sendiri merupakan upaya atau ikhtiar seseorang untuk merubah atau memperbaiki tingkah laku maupun perilaku ke arah yang lebih baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain, karna ilmu sendiri membawa ke jalan yang benar dan lurus juga meninggalkan kebodohan. Menuntut ilmu merupkan kewajiban bagi setiap umat muslim tanpa memandang jenis kelamin, usia maupun status sosial di lingkungan bermasyarakat. Hukum menuntut ilmu ini dibagi menjadi 2 yaitu Fardhu Ain  yaitu yang wajib dan Fardhu Kifayah gugurnya kewajiban menuntut ilmu. Allah SWT juga memberi ancaman yang keras bagi orang-orang yang tidak mau mengamalkan ilmuya.

3.2.   Saran

           Sebagai manusia yang diciptakan Allah SWT dengan akal dan pikiran hendaknya kita memanfaatannya dengan terus menurus belajar dan mencari ilmu baru baik ilmu dunia dan akhirat serta mengamalkannya pada kehidupan sehari-hari

           Sangat disadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih memiliki banyak kekurangan, jadi kritik dan saran yang membangun sangat diperlukan.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Rizkiyah R, dkk. 2021. “Kewajiban Menuntut dan Mengamalkan Ilmu”, Bandar Lampung

 

Ni’mah K, 2018. “Konsep Pendidikan Islam Berwawasan Kerukunan Pada Masyarakat Multikultural”, Vol. 17

 

Zulfahmi S, “Kewajiban Belajar”

 

Afifa F, 2021. “5 Keutamaan Menuntut Ilmu Menurut Islam, Bisa Jadi Jalan Menuju Surga, Masya Allah!”< https://www.orami.co.id/magazine/keutamaan-menuntut-ilmu/> akses 18 November 2021

 

Yusuf W, 2017. “Ancaman Bagi Orang Yang Tidak Mengamalkan Ilmunya”< https://wakidyusuf.wordpress.com/2017/01/26/ancaman-bagi-orang-yang-tidak-mengamalkan-ilmunya/>  akses 18 November 2021

 

 

 

Komentar